Jumat, 04 Mei 2012

Menangislah, Sebelum kau Menangis Di sana

Detik waktu bersama kelahiran seorang bayi dihiasi tangisan. 
Nyaring berkumandang menyaring segala suara yang menyapa telinga ibu. Lonjak hatinya memuncak gembira penawar sakit dan lesu. Lalu bermulalah sebuah kehidupan yang mewarnai bumi berpenakan hati, berdakwatkan air mata.
Air mata adakalanya penyubur hati,penawar duka. Adakalanya buih kekecewaan yang menyempit perasaan , menyesak kehidupan. Air mata seorang manusia hanyalah umpama air kotor diperlimpahan. Namun setitis air mata karena takutkan Allah SWT persis permata indahnya gemerlapan. Penghuni Syurga ialah mereka yang banyak dukacitanya di dunia.

Nak, Ayah mencintaimu

Kalau Anda seorang ayah pasti sering mendengar kalimat-kalimat berikut ini: “Ayah, aku sudah mandi.”
Aku sudah sudah belajar lho, Pa.” Apa aku boleh ikut abi pergi ?”.
Kalau bapak pulang, bawakan aku es krim ya ?” Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah respon kita saat itu ? Apakah tanggapan kita seindah binar mata mereka ? Apakah sikap kita semanis senyum mereka ? Apakah jawaban kita sebesar harapan mereka ?